Menurut pendapat saya, dari bahan bacaan yang berjudul “PLTA Mini Bangkitkan Desa Terpencil”, termasuk tipe pola Pengembangan Komunitas Lokal dan Perencanaan Sosial dari Rothman dan Tropman (1987) dari tiga pola pengorganisasian komunitas dalam kerangka pengembangan masyarakat.

Hal ini dapat terlihat dari latar belakang cendrung merujuk pada proses dan aplikasi tujuan pengorganisasian warga komunitas berusaha untuk mengembangkan komunitas lokal dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada dan sedikit menggantungkan pada pihak luar. Pola pengembangan komunitas dapat dilihat dari adanya peran dan partisipasi aktif masyarakat akan program pembuatan PLTA. Partisipasi ini melibatkan masyarakat untuk berkumpul dan bersama-sama memberikan pendapat saat pembicaraan mengenai ide yang dicetuskan untuk membangun PLTA sendiri.

Sedangkan Perencanaan Sosial, dapat dilihat dari peran Sekretaris Camat dalam melakukan survei lokasi yang cocok untuk pembangunan PLTA, yakni memanfaatkan kesediaan air sebagai penggerak mesin, walau terjadi kegagalan. Dapat dilihat juga dari peran Kepala Desa dalam melakukan studi banding ke Desa Malaba yang sudah memanfaatkan fasilitas pembangkit listrik dari turbin, juga kehadiran teknisi dirasa mempunyai peran dalam hal pembagian kerja warga terbilang aktif. Hal ini menekankan pada tujuan berdasar tugas.

Secara garis besar, bahan bacaan ini menunjukkan kecendrungan pada Pengembangan Komunitas Lokal daripada Perencanaan Sosial, karena pemikiran langkah-langkah yang diambil diperuntukkan untuk pengembangan komunitas lokal.

2. Berdasarkan bahan bacaan, menurut saya terdapat keempat kategori peran pekerja komunitas. Penjelasannya yakni Facilitative Roles (orang yang mampu mendengar dan memahami aspirasi anggota komunitas, bersikap netral, mampu mencari jalan keluar, dan mampu bernegosiasi) yakni peran LP2M  yang berusaha memberikan peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal kelembagaan dan kegiatan ekonomi produktif dalam hal mensosialisasikan lewat forum rembug, juga Kades melalui pendekatan individual dan persuasif  kepada tokoh masyarakat, bentuk ini dapat mengembalikan kepercayaan warga.

Educational Role (menumbuhkan kesadaran, dinamika internal, memberikan pelatihan) yakni peran Sekcam dalam idenya untuk membuat PLTA sendiri dan peran Kades lewat tokoh masyarakat dalam menyakinkan kembali pembangunan PLTA kembali, terbukti dapat menjadi suatu bentuk dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan hal itu juga mekanisme pelatihan tenaga operasionalpembangkir PLTA .

Representational Roles ( Wakil yang dapat berinteraksi dengan lembaga eksternal atau jaringan antara pekerja pengembangan masyarakat dan pekerja yang relevan) yakni peran Kades yang berhubungan langsung dengan LP2M dalam hal fasilitas rembug desa juga menghadirkan teknisi sebagai aktor yang berperan dalam meningkatkan kepercayaan warga akan pembangunan PLTA sistem Turbin.

Technical Roles ( Teknikal) yakni peran teknisi dalam pembagian tugas masyrakat dalam hal pembangunan PLTA.

3. Perbandingan kasus Pembangunan PLTA Dipimpin Sekjam Ponre dan Studi Banding Pulihkan Kepercayaan Diri.

Jenis Kasus Pola Pengembangan Masyarakat Peran Pekerja Masyarakat
Kasus I Pola pengembangan masyarakat yang ada yaitu lebih mengarah pada perencanaan sosial, ini bisa dilihat dari Selain itu juga terlihat pola perencanaan sosial yaitu dengan meliahat lokasi turbin yang cocok. Hanya saja perencanaan yang dilakukan kurang baik. Peran pekerja yang terlihat disini adalah sekretaris camat (sekcam). Pada kasus I sekcam dapat dikatakan berperan sebagai facilitative roles. Sekcam lebih bertindak sebagai pembuka akses awal dengan pemberian idenya dan memberikan fasilitas dalam pembuatan turbin dengan memberikan bantuan untuk pengiriman alat-alat kebutuhan pembuatan turbin. Namun sayangnya, sekcam tidak bisa melanjutkan atau paling tidak memperbaiki proyek yang dilaksanakan.
Kasus II Pola pengembangan masyarakat yang terlihat yaitu pengembangan komunitas lokal dan perencanaan sosial. Pengembangan komunitas lokal ditandai dengan partisipasi masyarakat dan adanya keinginan warga untuk mendapatkan keahlian dalam pengelolaan turbin serta dalam perencanaan sosialnya, kepala desa berperan dalam pendatangan teknisi yang membantu untuk mensurvei kembali dan membantu pembuatan turbin serta peningkatan kemampuan warga. Kepala desa merupakan pekerja komunitas yang paling terlihat pada kasus ini yang dikategorikan sebagai representational roles, Peran kepala desa pada pembangunan PLTA untuk yang kedua kalinya cukup banyak, diantaranya sebagai pemberi informasi, penghubung dengan lembaga-lembaga eksternal, teknisi-teknisi, dan sebagai seorang yang berinisiatif dalam penerusan poyek tersebut. Sampai sekarang pun PLTA tersebut masih dijalankan. Educational Roles, mekanisme pelatihan tenaga operasional pembangkit PLTA, dan technical roles, peran teknisi pembuat PLTA.

Pembangunan yang dilaksanakan di Desa Salebba merupakan pembangunan yang berlandaskan pengembangan masyarakat. Berbeda dengan tipe pembangunan pemerintah yang lebih mengarah pada sentralisasi dan bersifat ekonomi konvensional, pembangunan yang ada di desa Salebba lebih bersifat desentralisasi dan keswadayaan lokal. Keswadayaan lokal terwujudkan dari peran serta masyarakat yang membangun PLTA dengan  pendanaan dari masyarakat sendiri. Pemerintah dalam penanganan masalah listrik, dalam hal ini PLN, masih melihat konteks ekonomi untuk memberikan aliran listrik ke daerah tersebut. Tapi, keuntungan dari PLN yang menolak memberikan pengadaan listrik di daerah tersebut juga di dapatkan. Hal ini tidak merugikan masyarakat karena langkah yang dilakukan masyarakat dengan membangun turbin sendiri yang tentunya memperhatikan kearifan lokal, dengan memanfaatkan kondisi alamnya, tidak menghabiskan biaya besar baik untuk pembuatan turbin ataupun dalam pembayaran penggunaan listrik.

Bacaan:

Sidik, Muhammad Alim. 2005. PLTA Mini Bangkitkan Desa Terpencil: Keberhasilan Desa Salebba, Sulawesi Selatan, Atasi Keterbatasan PLN. CESS dan JPIP: Surabaya.

Comments are closed.